The Japan Foundation, Jakarta

Relativisme berimbang & unity in diversity: syarat mutlak terbentuknya EAC

Relativisme berimbang & unity in diversity: syarat mutlak terbentuknya EAC

"We were forcefully reminded, nevertheless, how powerless humanity is before the forces of nature. How will we respond?"

Kutipan di atas disampaikan oleh Choi Sang-yong, mantan Duta Besar Korea Selatan untuk Jepang dalam Asahi Shimbun edisi 21 April 2011 sebagai respon atas terjadinya bencana gempa dan tsunami di Jepang pada tanggal 11 Maret lalu.

Dalam kutipan tersebut, mantan Dubes Choi menyatakan betapa seringkali rasa kemanusiaan antar-umat manusia sangat lemah kecuali saat terjadi tragedi atau bencana. Dalam kasus hubungan Jepang dan Korea misalnya, mantan Dubes Choi menggambarkan perbedaan reaksi masyarakat Korea saat publikasi buku sejarah untuk sekolah menengah di Jepang dengan reaksi mereka saat mendengar berita gempa dan tsunami di Jepang.

Perbedaan reaksi ini tentunya dapat dipahami mengingat buku sejarah yang dipublikasikan oleh pemerintah Jepang dianggap mengaburkan kenyataan sejarah bagi para pemuda Jepang. Sedangkan ketika Jepang dihantam oleh tsunami, Korea Selatan merupakan salah satu negara yang pertama kali memberikan bantuan mengingat Jepang adalah negara tetangganya.

Meski demikian, mantan Dubes Choi menekankan bahwa dibutuhkan kearifan dan relativitas yang berimbang untuk mewujudkan keharmonisan dalam hubungan antar masyarakat manusia (negara) ataupun antara manusia dengan alam.

Terkait dengan hal tersebut, kurangnya relativitas berimbang dalam hubungan antarnegara di kawasan Asia Timur mungkin masih merupakan salah satu penghalang utama belum bisa terwujudnya Komunitas Asia Timur hingga saat ini. Salah satu syarat mutlak terbentuknya sebuah komunitas adalah adanya kesamaan visi dan identitas bersama. Dalam hal ini, maka negara-negara yang ingin membentuk sebuah komunitas harus dapat bersikap arif terhadap perbedaan dan hibridasi yang seringkali terjadi. Komunitas ASEAN hingga saat ini belum bisa dikatakan berhasil karena masih kurangnya rasa kekitaan (we-ness) antarnegara anggotanya.

Sebagai contoh, media di Indonesia seringkali memberitakan bahwa budaya reog ponorogo dan masakan rendang diklaim oleh Malaysia. Padahal pada kenyataannya budaya reog ponorogo diperkenalkan oleh orang-orang Jawa Timur yang tinggal di Malaysia dan mempertontonkannya kepada penduduk lokal dan begitu juga dengan masakan rendang.

Berdasarkan hal tersebut, maka rencana negara-negara Asia Timur untuk membentuk komunitas Asia Timur nampaknya masih jauh dari kenyataan. Hal ini dapat dilihat dari belum adanya persamaan visi dari masing-masing negara tentang bentuk dan konsep dari komunitas yang digagas. Jepang yang menginginkan format komunitas Asia Timur sebagai komunitas yang inklusif dan tidak terbatas pada definisi geografis bertentangan dengan Cina yang menginginkan format komunitas yang lebih eksklusif.

Di samping itu, alih-alih disibukkan dengan upaya penguatan pemahaman pemuda antara satu negara terhadap negara lainnya, negara-negara Asia Timur seringkali masih disibukkan oleh konflik-konflik tradisional seperti perebutan pulau Dokdo/Takeshima antara Jepang dan Korea, pulau Senkaku/Diaoyu antara Jepang dan Cina.

Seperti halnya disampaikan oleh mantan Dubes Choi, masyarakat dari ketiga negara seringkali tidak memiliki ketertarikan, pengetahuan atau kepedulian khusus tentang negara-negara tetangganya kecuali saat ditimpa bencana. Oleh karenanya, jika negara-negara Asia Timur ingin membentuk satu Komunitas Asia Timur, maka mereka harus memiliki relativitas berimbang dan penghargaan akan perbedaan dalam membina hubungan antara satu dengan yang lain. (KA-05/09/2011)

References:

Sang-yong, Choi. `Recovering from disaster: test of japan's national caliber'. Asahi Shimbun, 21 April 2011.

http://www.eastasiaforum.org/2010/04/01/building-an-east-asian-community/

http://www.facts-about-japan.com/images/maps/East_Asia_Map.png