The Japan Foundation, Jakarta

KAWAII - konsep keindahan Jepang kontemporer

Apakah Kawaii itu?
Oleh : Prof. Yomota Inuhiko
Penerjemah : Dipo Siahaan

(IV) - selesai

8. Ketertarikan anak muda terhadap karakter-karakter animasi dalam bahasa Jepang disebut sebagai Moe. Moe secara harafiah berarti energi mental yang terbangkitkan dan terbakar. Saat ini semakin banyak anak muda di Jepang yang menghindari perempuan sebenarnya dan melimpahkan gairah seksual mereka kepada karakter virtual dalam manga dan anime. Mereka adalah anak-anak muda yang tertutup dan sangat menyukai mengoleksi gambar-gambar gadis-gadis cantik. Selama hobi itu tidak berlebihan, ketertarikan terhadap ‘kecantikan’ gadis muda, secara historis, dapat diterima di masyarakat. Para pemuda semacam ini sering berkumpul di distrik Akihabara di Tokyo, sebuah tempat yang unik dimana seseorang bisa mendapatkan berbagai variasi benda seperti manga dan VCD. Di sisi lain, bahkan di antara para gadis sendiri, saat ini telah menjadi populer membeli kostum karakter anime tertentu dan memakainya di jalan atau tempat-tempat umum, untuk kemudian mencoba meniru karakter manga atau anime tersebut. Kegiatan ini disebut sebagai costume play, yang biasanya dikenal secara singkat dengan kata kosupure. Para gadis yang tergila-gila pada kosupure biasanya akan membentuk kelompok-kelompok dan kemudian akan keluar menampilkan diri mereka di tempat umum pada saat-saat tertentu. Transformasi ini dimungkinkan terjadi dalam satu masa tertentu, sebuah tindakan memasuki dunia yang tidak biasa. Para gadis itu pun dapat mengalami sensasi mabuk (?) yang timbul karena memerankan tokoh pahlawan dalam Sailor Moon. Melalui cos-play juga, para gadis pun dapat menjadi kawaii. Di Jepang “Lolita” bukanlah sebuah istilah yang kotor . Salah satu genre dari gaya berbusana ‘kawaii’ adalah yang dinamakan ‘Gothic Lolita’, yaitu sebuah gaya berpkaian yang bahkan memiliki majalah mode mingguannya sendiri. Bahkan hingga sekarang.

9. Seluruh dunia saat ini dibanjiri dengan berbagai benda kawaii. Kemana pun kau pergi, kau akan selalu bisa menemukan anime Jepang, Pokemon dan Hello Kitty. Kebudayaan popular Jepang tidak pernah melintasi batas-batas dunia seperti yang terjadi saat ini. Kawaii muncul dari keunikan yang terdapat dalam kebudayaan, tapi begitu keunikan itu dibuat menjadi ‘tak berbau Jepang’ dalam globalisasi saat ini, kawaii pun dapat dengan mudah mencapai berbagai penjuru dunia. Di dalam Jepang sendiri, ada beberapa orang yang mencoba mengangkat fenomena ini sebagai sumber bagi nasionalisme kebudayaan Jepang, namun ini merupakan sikap yang kurang tepat. Kawaii sebenarnya hanya bisa muncul di dunia, ketika konsep itu telah dilucuti dari simbol-simbol ke-Jepang-annya [telah berhenti mewakili Jepang?]. Namun, jika kita menganggap kawaii sebagai mitos sosial modern, kita juga harus hati-hati dalam mengamati makna tersembunyi yang dibawanya ke dalam masyarakat konsumsi popular saat ini. Ketika imaji tentang gadis-gadis tanpa bangsa dan sejarah atau tentang binatang yang dimanusiakan dan sangat tidak realistis, disirkulasikan ke seluruh dunia sebagai pilar utama konsep kawaii, kita juga harus melihat hal-hal apa sajakah yang telah dihilangkan dari dalamnya. Saya pernah mendapat kesempatan mengunjungi reruntuhan di kamp konsentrasi di Auschwitz. Di sebuah dinding dalam sebuah ruangan besar tempat para orang Jahudi mencuci wajah mereka, ada sebuah lukisan dua ekor kucing yang sangat lucu. Gambar itu jelas digambarkan oleh pihak penguasa kamp itu. Di depan mata kita sendiri, dunia dibanjiri dengan berbagai benda kawaii. Namun, kita perlu mengamati dengan lebih jelas lagi, sebenarnya apakah yang telah disembunyikannya dalam kesadaran kita.

__________________________________ Frase mono no aware sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun karena maknanya yang sangat kontekstual dengan kebudayaan Jepang. Terjemahan di atas adalah terjemahan yang bersifat sebagian dan tidak menyeluruh. Makna frase ini mencakup berbagai perasaaan manusia yang sangat kompleks seperti rasa kekaguman, ketakutan akan kehilangan, dan juga ketidakberdayaan. Penggambaran paling tepat terhadap frase ini mungkin dapat dilihat pada perasaan orang Jepang ketika melihat bunga Sakura. Sakura adalah bunga yang sangat indah, namun hanya mekar selama seminggu. Pada saat melihat Sakura, ada serangkaian perasaan kompleks yang timbul seperti rasa kekaguman pada keindahan sakura, ketakutan/kesedihan yang muncul karena tahu bahwa sakura itu pasti akan segera hilang, dan rasa tidak berdaya untuk mencegah semuanya terjadi. – penerjemah Mungkin kata ‘lucu’ dalam bahasa Indonesia adalah kata yang memiliki makna terdekat dengan makna ‘kawaii’ walaupun lucu tampaknya hanya mencakup aspek positif dari kawaii saja.Kita juga jarang mengatakan ‘orang tua yang lucu’. Lebih jauh lagi, kalimat seperti ‘SBY lucu’ atau ‘presiden lucu’ mungkin jarang kita gunakan, dan kalaupun digunakan kemungkinan besar adalah dengan maksud untuk mengejek atau menyindir. Jelas bukan sebagai sebuah jenis pujian -- penerjemah Political Correctness merupakan ketepatan penggunaan suatu kata secara politis. Ketepatan penggunaaan kata ditemukan pada kesesuaian makna yang terkandung di dalamnya dengan kondisi sosial-politis pada saat kata tersebut digunakan. Misalkan: istilah ‘negro’ akan tepat digunakan pada Amerika Serikat yang masih menganut sistem perbudakan karena makna yang terkandung dalam kata tersebut yang merendahkan orang kulit hitam. Namun istilah yang sama akan menimbulkan masalah political correctness pada masyarakat Amerika Serikat yang tidak lagi menganut sistem perbudakan. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja ‘menggagahi’ – yang berarti memperkosa – adalah sebuah kata yang politically correct bagi masyarakat yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki dan yang menganggap bahwa tindakan memperkosa adalah sebuah tindakan yang ‘gagah’. Namun, bagi masyarakat yang tidak menganut pandangan seperti itu maka kata ‘menggagahi’ adalah kata yang akan menimbulkan masalah political correctness karena maknanya yang melecehkan – baik perempuan dan laki-laki – dan ketidak tepatannya makna tersebut dengan pandangan yang terdapat dalam masyarakat. Penting juga untuk diingat bahwa dalam hal political correctness terkandung keberpihakan kepada mereka yang tertindas. -- penerjemah ‘Lolita’ adalah sebuah istilah yang diambil dari sebuah novel berjudul sama karya Vladimir Nabokov. Novel ini menceritakan tentang seorang laki-laki berusia dewasa yang jatuh cinta dan mengadakan hubungan seksual dengan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Sejak novel kontroversial ini diterbitkan, ‘Lolita’ dalam bahasa Inggris menjadi sinonim dengan makna ‘gairah seksual tidak wajar terhadap anak perempuan di bawah umur’. Namun, karena satu dan lain hal, istilah yang sama tampaknya mendapatkan makna yang berbeda di Jepang. -- penerjemah Makalah ini diberikan oleh Prof Yomota dalam acara seminar di Jakarta 2007