Food Security: Challenges and Strategies in South and Southeast Asia
Food Security: Challenges and Strategies
in South and Southeast Asia
Istilah food security (keamanan pangan), secara umum dipahami sebagai rangkaian upaya untuk menjaga ketersediaan pangan yang cukup dan akses untuk memperoleh pangan yang dapat memungkinkan untuk hidup secara sehat dan aktif. Berdasarkan Food and Agriculture Organization (FAO), food security terdefinisikan ke dalam empat dimensi, yaitu ketersediaan pangan secara fisik, kemampuan ekonomi dan akses terhadap pangan, pemanfaatan pangan, dan kestabilan pangan. Tidak hanya itu, food security juga bergantung pada dukungan lingkungan ekonomi dan kebijakan politik yang ada. Konteks demikian menjadikan food security menjadi sebuah isu kelanjutan perkembangan yang kompleks, karena terkait dengan lingkungan kesehatan, sosial, ekonomi, dan politik.
Oleh karena itu, food insecurity, tidak hanya berarti sebagai sebuah kondisi dimana terjadi ketidaktersediaan pangan tetapi juga akan selalu diasosiasikan dengan kondisi kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, stagnansi pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan politik yang tidak tepat. Dalam era kontemporer, permasalahan food security, menjadi semakin marak untuk dibicarakan dalam konteks global mengingat akan pentingnya keamanan pangan terkait dengan peningkatan dan pertumbuhan masyarakat dunia, laju perputaran ekonomi, dan perubahan iklim.
Konteks kajian food security dalam level global, terfokus dalam kawasan Asia Selatan dan Tenggara. Hal ini diakibatkan karena negara-negara dalam kawasan tersebut memiliki potensi yang sangat besar sebagai pemasok ketersediaan pangan, akan tetapi kondisi yang terjadi justru sebaliknya. Sehingga pada era tahun 1960an hingga awal 1970an, banyak negara di Asia Selatan dan Tenggara menjadi fokus perhatian dunia internasional terkait dengan permasalahan kekurangan pangan yang terjadi. Melihat adanya potensi yang dimiliki dan adanya permasalahan tersebut, berbagai program bantuan pangan dan program bantuan lain yang terkait, termasuk pendidikan dan penguatan ekonomi, dilakukan. Bantuan yang diberikan merupakan suatu bentuk investasi, dengan harapan bahwa dengan terciptanya kestabilan pangan di kawasan Asia Selatan dan Tenggara, dapat menjadi jalan keluar dalam mengatasi kemungkinan terjadinya food insecurity atau krisis pangan. Upaya dalam level global yang dilakukan pada era tersebut adalah melalui Revolusi Hijau (Green Revolution) Asia, yang dimulai sejak era 1960.
Revolusi Hijau merupakan serangkaian inisiatif dan pelaksanaan riset, pengembangan, dan transfer teknologi yang dilakukan dalam upaya untuk peningkatan produksi pangan. Area yang menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Revolusi Hijau adalah negara-negara berkembang Asia (terutama Selatan dan Tenggara), yang memiliki lahan luas dengan jumlah penduduk yang besar dan berteknologi rendah. Revolusi Hijau berdampak pada pertumbuhan jumlah produksi pangan yang signifikan pada pertengahan 1980an. Hal ini secara otomatis juga berdampak pada pengurangan tingkat kemiskinan dan percepatan pertumbuhan perekonomian yang terjadi di negara-negara di Asia. Revolusi Hijau dapat dikatakan berhasil di dalam menanggulangi kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya food insecurity pada tahun 1960an-1970an.
Meskipun demikian, permasalahan food insecurity masih belum dapat terpecahkan sepenuhnya, tetapi justru terjadi akumulasi dan eskalasi permasalahan terkait dengan ketersediaan pangan. Permasalahan utama yang terjadi diakibatkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi sebagai akibat dari resesi perekonomian dalam beberapa periode terakhir. Hal ini mengakibatkan pemerintah menjadi terfokus dalam upaya pemulihan dan pengembangan perekonomian, dengan mengesampingkan isu-isu food security. Kedua, sekalipun laju tingkat pertumbuhan populasi di mayoritas negara-negara Asia menurun, akan tetapi permintaan akan ketersediaan pangan untuk negara seperti Cina, Indonesia, dan Malaysia justru meningkat dengan cepat sebagai akibat dari pendapatan yang lebih tinggi. Kemudian, dengan terjadinya fenomena ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan impor pangan daripada melakukan akselerasi dalam meningkatkan tingkat pertumbuhan produksi pangan domestik. Permasalahan kedua tersebut, berpengaruh sangat besar dalam memunculkan permasalahan ketiga, yaitu peningkatan harga pangan secara drastis. Ketersediaan bahan pangan impor dengan harga yang relatif lebih mahal tidak didukung oleh kemampuan daya beli masyarakat sehingga ketersediaan pangan dan nutrisi di mayoritas negara Asia masih jauh dari tingkat yang diharapkan. Permasalahan keempat terkait dengan fenomena perubahan iklim, dimana fenomena ini secara langsung dapat mempengaruhi tingkat produksi pangan secara global karena mengakibatkan kekeringan dan kondisi cuaca ekstrem yang berefek buruk dalam produksi pangan. Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut, FAO mengestimasikan bahwa 62% dari 925 juta penderita kekurangan gizi berasal dari Asia dan pasifik, dimana sekitar 578 juta orang menderita kelaparan di Asia (FAO/WFP, 2011).
Dengan adanya eskalasi permasalahan yang terjadi, food security kembali menjadi sebuah agenda politik yang penting untuk diperhatikan. Terkait dengan perkiraan krisis pangan yang akan terjadi, terdapat berbagai penerapan strategi yang berbeda dari negara-negara Asia. Strategi yang diterapkan didasarkan oleh karakteristik setiap negara. Menurut Annelies Zoomers, Professor International Development Studies di Universitas Utrecht, dalam artikelnya”Food Security Strategies in South and Southeast Asia”, di The Newsletter No. 58 edisi Autumn/Winter 2011, strategi yang diterapkan oleh negara-negara Asia dalam kajian food security, dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yang berbeda.
Kategori pertama meliputi negara yang kaya modal tetapi miskin sumber daya, yaitu Cina, India, Jepang, dan negara-negara teluk. Strategi yang diterapkan adaalah dengan menginvestasikan lahan pertanian lepas pantai di negara-negara Afrika, Latin, dan Asia. Strategi pencarian dan investasi lahan dilakukan dengan tujuan untuk menjamin food security dari populasi nasionalnya, dimana strategi ini dilakukan dengan cara pembelian dan/atau penyewaan lahan dari negara lain. Kategori kedua, terdiri dari negara-negara Asia yang berusaha untuk menjadi spesialisasi dalam komoditas tertentu dengan tujuan untuk mencapai food security dan sumber pendapatan yang stabil. Malaysia dan Indonesia melakukan investasi besar dengan tujuan untuk menjadi pemimpin dalam sektor produksi kelapa sawit, sementara Thailand dan Vietnam berusaha dalam komoditas padi, karet, dan ikan. Strategi tersebut memanfaatkan investasi domestik dan internasional untuk memperkuat produksi pangan dalam teritorial sendiri. Sementara itu, kategori ketiga terdiri dari negara-negara yang strategi utamanya adalah dengan menjual dan/atau menyewakan lahan mereka untuk investor asing. Strategi ini dilakukan dalam upaya penguatan kekuatan ekonomi agar dapat meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga dengan kekuatan ekonomi yang stabil diharapkan nantinya dapat mencapai food security.
Terkait dengan kajian food security, fenomena yang terjadi di Asia, baik permasalahan dan tantangan yang muncul maupun strategi yang diterapkan sangat bervariasi. Meskipun demikian, masih terlalu awal untuk menilai bagaimana keefektifan strategi yang diterapkan. Pangan dan ketersediaan pangan, dari waktu ke waktu, secara konstan telah menjadi sebuah isu kunci dalam konstelasi dunia, terkait dengan pengaruh ketersediaan pangan terhadap keberlangsungan kehidupan dan eksistensi manusia. (AD-05/12/2012)
Sumber:
FAO: Regional Office for Asia and the Pasific. Annex 2: Food Security in Southeast Asia – Achievements and the Unfinished Tasks. FAO Corporate Document Repository. Available from http://www.fao.org/docrep/004/ab981e/ab981e0b.htm.
FAO/WFP. 2011. The State of Food Insecurity of the World: Addressing Food Security in Protracted Crises. Available from http://www.fao.org/publications/sofi/en.
Subejo. 2010. ‘Food Security and Diversification’. The Jakarta Post edisi Kamis 24 Juni 2010.
Zoomers, Annelies. 2011. ‘Food Security Strategies in South and Southeast Asia’. The Newsletter No. 58 edisi Autumn/Winter 2011.

