The Japan Foundation, Jakarta

The 19th ASEAN Summit: The Next Level of ASEAN?

Association of South East Asia Nations, atau yang jauh lebih dikenal sebagai ASEAN, baru saja menghelat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-19 di Nusa Dua, Bali. KTT yang berlangsung pada 14-19 November 2011 menjadi pertemuan penting untuk membawa ASEAN ke dalam konteks sistem dunia internasional yang lebih tinggi. ASEAN yang didirikan sejak 8 Agustus 1967, berkembang secara signifikan dalam skala jumlah keanggotaan, dan hal ini juga diikuti dengan meningkatnya nilai dan arti penting peranan ASEAN yang tidak hanya bagi negara anggotanya, melainkan juga untuk konstelasi ekonomi dan politik dunia internasional.

Mengingat akan arti penting tersebut, KTT ASEAN ke-19, tidak hanya dihadiri oleh 10 pemimpin negara anggota ASEAN, tetapi juga pemimpin dari negara Mitra Dialog ASEAN, yaitu Amerika Serikat, Australia, Cina, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia, dan Selandia Baru. KTT ASEAN ke-19 juga dihadiri oleh Sekertaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon, yang mengakui akan arti penting ASEAN dan menyatakan bahwa saat ini adalah momen bagi ASEAN untuk berperan dan ikut serta dalam peranan global dan adanya keoptimisan atas solidaritas dan komitmen yang terbentuk di antara negara anggota ASEAN akan dapat merealisasikan agenda Tujuan Milenium Dunia (MDGs). Sehingga pertemuan skala regional yang berlangsung selama tiga hari tersebut selain menghelat KTT ASEAN ke-19, juga terdapat beberapa KTT lainnya yang berkorelasi, yaitu KTT ASEAN +3, KTT ASEAN – Asia Timur, dan KTT PBB – ASEAN.

ASEAN, kini tidak hanya sebagai sebuah forum regional, tetapi telah mengalami elevasi ke level yang lebih tinggi sebagai salah satu forum regional yang berpengaruh, selain Uni Eropa. Terdapat sebuah pepatah yang berlaku dalam percaturan politik dunia, yaitu dimana ada kepentingan ekonomi, maka di sana akan ada kehadiran politik dan militer. Hal ini kemudian juga dapat termodifikasi dalam berbagai kepentingan lainnya. ASEAN, yang bergerak menuju zona pasar bebas ASEAN, secara otomatis menjadi pusat perhatian. Mayoritas negara anggota ASEAN termasuk ke dalam negara-negara berkembang yang berperan penting perputaran perekonomian, baik regional maupun global. Sehingga kemudian, permasalahan politik dan keamanan regional Asia Tenggara juga menjadi fokus dalam KTT ASEAN ke-19, antara lain permasalahan Laut Cina Selatan dan Zona Bebas Nuklir ASEAN.

Stabilitas politik dan keamanan regional ASEAN menjadi tuntutan yang harus diupayakan oleh ASEAN dan negara-negara Mitra Dialog ASEAN agar tercipta suasana yang kondusif dalam perputaran laju perekonomian ASEAN dan negara-negara anggotanya, dimana peningkatan perekonomian ASEAN akan dapat mengkatrol perekonomian global terutama dalam proses upaya pemulihan resesei global. Hal ini berakibat dalam sikap kooperatif negara-negara ASEAN dalam pembahasan Laut Cina Selatan dan Zona Bebas Nuklir ASEAN. Meskipun hingga saat ini masih belum tercapai resolusi yang tepat dalam resolusi Laut Cina Selatan, tetapi pembicaran dan dialog damai dapat terakomodasi untuk kesepakatan penyelesaian masalah dan peningkatan kesejahteraan gabungan kawasan. Terkait dengan Zona Bebas Nuklir ASEAN, Delegasi Lima Pihak dari negara-negara pemilik senjata nuklir, yaitu Amerika Serikat, Cina, Inggris, Prancis, dan Rusia telah menyetujui kesepakatan untuk menciptakan dan menghormati Zona Bebas Nuklir ASEAN, dan diharapkan dengan adanya kesepakatan ini dapat menjadi awal proses penandatanganan perjanjian kerjasama antara ASEAN dengan Delegasi Lima Pihak.

KTT ASEAN ke-19, juga membawa hubungan yang lebih dekat antara ASEAN dengan PBB ketika proposal hubungan kerjasama yang lebih dalam didukung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, karena Indonesia menjabat keketuaan ASEAN, dan Sekertaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon. Hingga saat ini, kerjasama yang telah terbentuk antara ASEAN dengan PBB meliputi area yang luas, antara lain finansial, perubahan iklim, keamanan pangan dan energi, Millenium Development Goals (MDGs), manajemen bencana, perdamaian dan keamanan, dan hak asasi manusia.

Lebih lanjut, dengan terciptanya pembicaraan atas upaya penjagaan stabilitas politik dan keamanan regional di wilayah Asia Tenggara, pemerintah Jepang menawarkan suatu bentuk kemitraan ekonomis strategis di Asia Timur yang dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN dan Asia Timur. Terkait dengan tawaran tersebut terdapat tiga poin penawaran yang diberikan yaitu integrasi perdagangan, bantuan pembangunan infrastruktur, dan penawaran skema pertumbuhan yang berkelanjutan. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dilakukan untuk mereduksi kesenjangan pembangunan di antara negara-negara ASEAN. Jepang memproyeksikan perekonomian di ASEAN dan Asia Timur sebagai sebuah formasi flying geese, dimana Jepang diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin perekonomian Asia untuk membantu meningkatkan kekuatan perekonomian negara-negara di Asia, agar tercipta kestabilan perekonomian. Pertemuan para pemimpin ASEAN dengan Perdana Menteri Jepang, Yoshihiko Noda, juga mengadopsi pernyataan bersama untuk mempercepat kerja sama strategis ASEAN-Jepang dalam bentuk rencana aksi periode 2011-2015.

Pertemuan yang berlangsung hingga 19 November 2011 tersebut menghasilkan Sembilan Capaian Utama, yaitu langkah-langkah nyata dalam upaya memperkuat tiga pilar Komunitas ASEAN (diproyeksikan terbentuk pada tahun 2015), memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan, memegang peran penting dalam pembangunan arsitektur kerjasama kawasan yang lebih efisien dan efektif, mempertahankan stabilitas dan keamanan kawasan Asia Tenggara, memperkuat peran global ASEAN, upaya bersama untuk memperkuat ekonomi Asia Timur (Kawasan Asia Timur), upaya bersama membangun landasan dan aksi riil untuk menjawab keamanan pangan, air dan energi sekaligus juga perubahan iklim, upaya bersama untuk menangani tantangan-tantangan keamanan non-tradisional, upaya bersama untuk mempertahankan perdamaian, keamanan dan stabilitas serta tata tertib kawasan Asia Timur.

ASEAN tidak statis, hingga saat ini masih terus berkembang peranannya untuk ikut serta dalam konstelasi dunia internasional. Eskalasi peranan ASEAN kian menjadi sorotan para aktor dunia internasional, dan diharapkan ASEAN dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kerjasama internasional dalam segala bidang, dengan proyeksi untuk menciptakan tatanan dunia yang aman, damai, dan stabil. (AD-24/11/2011)

Sumber:
Jurnal Nasional, Jumat 18 November 2011
Jurnal Nasional Edisi Minggu, Minggu 20 November 2011
http://asean2011.kemlu.go.id/index.php?option=com_content&view=article&i...
http://www.aseansec.org/26740.htm
http://www.aseansummit.org/news216-jepang-tawarkan-kemitraan-strategis-a...
http://www.aseansummit.org/news254-closer-cooperation-between-asean,-un-...
http://www.aseansummit.org/news258-asean,-asean+,-asean-ea-and-asean-un-...
http://www.aseansummit.org/news269-sembilan-capaian-utama-ktt-asean-dan-...